Menjaulah, yang
jauh biarlah semakin jauh, untuk apa di sesali, biarlah. Tangis tak akan
menghentikan, janji tak akan mencegah. Hidup adalah pilahan, dan kita selalu
berada dihadapan semua pilihan yang menjanjikan, angan-angan indah.
Sudah cukup,
cerita ini berjalan berdampingan dengan waktu toh, kita memang tak bisa untuk
bersama, untuk apa semua. Hidup memang seperti ini, ada peran yang harus
dijalani, ada pilihan yang harus diambil, ada kata yang harus diucapkan, ada
perasaan yang seharusnya diutarakan, ada logika yang harus dituruti. Rasa
kecewa pasti ada, namun untuk apa harus disesali, tidak ada yang mau
merencanakan, jika kita bisa memilih mungkin akan kubuat jalan cerita ini
selalu indah, namun itu justru tidak indah, yang indah ya seperti ini, ada
kalanya harus menangis, ada kalanya harus terharu bahagia.
Ingatan akan
selalu hadir, kebahagian yang pernah kita alami, rasa cinta dan benci akan
muncul kembali seiring hidup yang terus berubah. Bukan terlarut, bukan
mengikuti, hanya sekedar mengingat, itu pernah terjadi. Waktu terus berjalan
meninggalkan kita, tentu selalu, dan pasti ada kejutan di hari esok. Hari yang
tidak akan pernah kita tahu, tiba-tiba muncul begitu saja seperti matahari pagi
yang hadir menghangatkan bumi.
Tidak selamnya
rasa sakit itu benar-benar sakit, dan tek selamanya bahagia itu benar-benar
bahagia. Sakit yang pernah kita alami, pasti akan kita rindukan, bahagia yang
telah berlalu justru membuat kita menangis karena tak akan kembali. Kata tidak
akan mengubah apapun selama tak ada perjuangan. Hidup tak selamanya nyaman, dan
aman. Harus sakit, menderita, kehilangan. Baru kita merasakan apa itu bahagia
yang sejati.

0 comments:
Post a Comment